Beranda > MUSIK > AMI AWARDS XIII, Kreasi, Eksistensi dan Edukasi Musikal

AMI AWARDS XIII, Kreasi, Eksistensi dan Edukasi Musikal


By Buddy ACe

Manakah yang anda pilih sebagai Penyanyi Solo Wanita Terbaik, Agnes Monica, Bungan Citra Lestari, Gita Gutawa, Kris Dayanthie, Rossa atau Sherina?  Atau manakah Band Terbaik menurut anda; D’Masiv, Geisha, Gigi, Nidji, Passto atau The Dance Company? Dan diantara deretan lagu-lagu ini; “Hampa Hatiku (Ungu), “Jangan Menyerah (D’Masiv), “Jika Cinta Dia (Geisha), “Separuh JIwaku Pergi” (Anang) dan “Teruskanlah” (Agnes Monica), manakah Lagu Terbaik menurut anda?

Apapun jawaban anda, semua karya produksi musik dan para insan musik baik yang  tersebut diatas maupun para musisi lainnya dari beragam genre musik dan bermacam label musik, kini tengah “berjuang” untuk menjadi yang terbaik pada Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards ke-13 pada 9 Juni 2010 yang akan digelar secara live di RCTI. Sebuah ajang yang kini menjadi harapan para insan musik dan seluruh masyarakat di tanah air, sebagai ajang musikal yang paling independen dan paling obyektif saat ini.Benarkah?

Jika Kesenian adalah; “Keindahan yang terkandung di dalam kebudayaan dan berjiwakan kecantikan”, maka sebuah anugerah musik atau penghargaan terhadap produksi musik, mestinya tak sekadar menghargai eksistensi para seniman musik dan memberikan imbalan atas kreasi karya terbaik mereka.

Sepatutnya, sebuah anugerah musik memberi efek kultural. Setiap penghargaan terhadap sebuah karya atau terhadap pelaku seninya, mestinya senantiasa menginspirasi dan menebar efek edukasi pada masyarakat penikmat musik yang mendengarkan setiap pilihan karya terbaik itu. Inilah esensi keberadaan AMI Awards di Indonesia yang membedakannya dengan ajang serupa.
”Karenanya kami berupaya untuk memberikan penilaian secara independen dan kredibel sekaligus juga menjunjung tinggi asas aktualisasi,” tandas Seno M. Hardjo, Ketua Tim Kategorisasi AMI Awards 13 yang akan berlangsung pada 9 Juni 2010.

Dengan berkembangnya peradaban masyarakat termasuk berkembangnya berbagai elemen dalam industri musik, maka sikap kultural dalam masyarakat pun mengalami perubahannya. Termasuk perubahan kebiasaan dalam mendengarkan musik melalui media Ring Back Tone (RBT).
Bagaimakah AMI Awards ke-13 menjawab perubahan perilaku dalam dunia hiburan itu?

”Dengan menenteng sebuah single, seorang penyanyi berhak masuk dalam kriteria kandidat nominator atau bahkan menjadi pemenangnya. Kita menerima fenomena ini karena memang untuk memproduksi satu album, selain biayanya mahal juga waktu yang lama. Sudah terjadi perubahan yang signifikan dari physical market ke digital market,” papar James F. Sundah, Anggota Tim Kategorisasi AMI Awards 13 ini.

James F. Sundah, pencipta lagu hits sepanjang masa ‘Lilin Lilin Kecil’ ini, juga memberikan keyakinan pada para insan musik dan masyarakat luas, bahwa ajang AMI Awards yang ke-13 ini, bakal memilih karya-karya yang dapat dipertanggung-jawabkan baik secara musikal maupun secara industrial dengan mempertimbangkan keseimbangan, nilai obyektifitas dan proporsionalitasnya.

Salah satu upaya yang dilakukan untuk mencapai keinginan ideal tersebut adalah teknis penilaian yang dilakukan secara bertahap dari tingkat lokal di wilayah kabupaten di Indonesia, tingkat regional dari 33 provinsi di seluruh tanah air, hingga penilaian dalam level nasional yang berlangsung di Jakarta pada 9 Juni 2010.

Setidaknya ada 1000 orang yang menjadi bagian dari proses penilaian panjang tersebut, demi menjaga kadar kualitas dari hasi penilaian, selama masa produksi karya musik tertentu yang dimulai antara dari 1 Desember 2008 hingga 31 Desember 2009.

”Tenggat waktu setahun tersebut agar kami bisa menampung semua karya dari beragam genre musik, baik karya produksi major label, minor label maupun karya produksi dari kalangan indie label,” terang Seno M. Hardjo, yang tak lupa menyampaikan keprihatinannya karena rendahnya perhatian dari kalangan indie label untuk mengirimkan karya produksi mereka ke panitia selama kurun waktu setahun tersebut.

Dalam kategorisasi ditingkat nasional, AMI Awards 13 melibatkan sejumlah nama dari berbagai kalangan, terutama tentu saja dari kalangan insan musik dan para pelaku industry. Mereka adalah; James F. Sundah, Noey, Capung, Doddy Katamsi, Ridho Hafiedz, Melanie Soebono, Bejo Gilang, Dadang, Dian dan Haji Ukat. Ada pula Hasief Ardiansyah & Dahono Fitrianto (Pengamat Musik) serta Dodo Abdullah & Octav Panggabena (Music Produser), Conrad Lamury (Sound Engineer) dan Dedidude (Design Grpaher).

Sementara itu pada puncak acara penghargaan AMI Awards 13 yang akan disiarkan secara live di RCTI, pihak RCTI berjanji akan menampilkan kemasan acara yang spektakuler.

“Yang pasti kami akan mengemas program yang belum pernah ada sebelumnya di televisi Indonesia, termasuk belum pernah terjadi di RCTI, ” jelas Rudy Ramawy, Direktur Sales & Marketing RCTI, tanpa merinci lebih jauh seperti apa kemasan acara tersebut.

Lebih jauh dari itu menurutnya, RCTI tak sekadar memikirkan kemasan acaranya semata, tapi pada masa-masa mendatang, RCTI akan ikut menjaga agar penghargaan yang diberikan kepada para insan musik berlangsung obyektif, merata ke seluruh tanah air dan mencakup seluruh jenis musik dan seluruh produksi dari bermacam label rekaman.

Kategori:MUSIK
  1. Belum ada komentar.
  1. 9 Juni 2010 pukul 23:14

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: