Beranda > NASIONAL > DPR: Listrik Gratis Bisa Bikin Masyarakat Malas Bekerja

DPR: Listrik Gratis Bisa Bikin Masyarakat Malas Bekerja


KATABERITA – Wacana listrik gratis bagi masyarakat miskin yang dilontarkan Direktur Utama PLN Dahlan Iskan, menuai pro dan kontra di kalangan anggota Komisi VII DPR. Ada yang mendukung rencana tersebut, tapi ada juga yang mengkritiknya habis-habisan.

“Itu usulan yang sangat bagus. Secara pribadi saya dukung itu,” ujar Wakil Ketua Komisi VII DPR, Ahmad Faria. Ia menilai wacana yang dicetuskan orang nomor satu di PLN tersebut ide yang lebih baik jika dibandingkan rencana pemerintah untuk memberikan bantuan langsung tunai (BLT) listrik kepada masyarakat kurang mampu.

“Kalau BLT-kan kita tidak tahu apakah benar masyarakat miskin ini terima atau tidak? Kalau ini kan jelas sasarannya,” ungkapnya.

Namun, lanjut Ahmad, jika wacana itu diterapkan maka akan ada konsekuensinya terhadap tambahan anggaran subsidi listrik dalam APBN-P 2010 sebesar Rp 1,5 triliun dari alokasi sebelumnya Rp 55,1 triliun. Pembengkakan subsidi tersebut, tentunya akan berimbas kepada bobot kenaikan TDL pada bulan Juli mendatang. Dari rata-rata kenaikan yang awalnya dipatok sebesar 10% bisa saja naik menjadi sekitar 15%.

“Jadi masalahnya Rp 1,5 triliun ini mau ditutup dari mana?” ucap Ahmad.

Menurutnya, jika mantan Bos Jawa Pos itu serius dengan rencananya, maka dana itu sebenarnya bisa didapatkan dari internal PLN sendiri, misalnya dengan menekan loses (susut jaringan) .

“Pak Dahlan harus kerja keras agar bisa tekan loses untuk menghasilkan dana sebesar Rp 1-2 triliun,” jelasnya.

Senada dengan Ahmad, Anggota Komisi VII DPR, dari fraksi Golkar, Satya W.Yudha menyatakan usulan Dahlan Iskan tentang Listrik gratis perlu dikaji lebih dalam. Pasalnya, untuk tahun 2010 telah disepakati tambahan subsidi Rp 2,4 triliun, sehingga apabila 450 VA digratiskan akan memakan biaya subsidi Rp 1,5 T sendiri.

Dengan begitu, imbuh Satya, hanya tersisa Rp 900 Milyar sehingga resikonya akan ada kenaikan yang besar untuk listrik yang 900 VA ke atas atau bahkan menjadi tidak bersubsidi lagi dan industri akan terkena dampak yang signifikan.

“Untuk itu gagasan ini perlu dikaji secara komprehensif terhadap dampak-dampaknya terutama dengan terbatasnya beban subsidi yang bisa ditanggung negara,” jelasnya.

Sementara itu, anggota Komisi Energi lainnya, Sutan Batoegana justru merasa khawatir jika listrik gratis bagi rakyat miskin diterapkan malah akan membuat masyarakat menjadi malas bekerja.

“Nanti kalau listrik gratis, bisa saja masyarakat lalu pikir BBM gratis. Kalau semuanya serba gratis nanti rakyat malah jadi malas bekerja. Di negara maju saja tidak ada yang gratis. Justru yang dilakukan negara maju yaitu mendorong etos kerja masyarakatnya sehingga memiliki daya beli yang tinggi. Dengan begitu masyarakat bisa beli listrik dengan harga yang wajar. Ini yang harus kita tiru,” ungkapnya.

Lagipula jika dicermati, PLN sendiri bukanlah masuk dalam BUMN yang selalu meraup untung. Bertahun-tahun BUMN listrik ini terus menelan kerugian. Jadi menurut Sutan, lebih baik bos BUMN listrik itu lebih fokus menyelesaikan masalah internalnya terlebih dahulu. Misalnya dengan terus berupaya menurunkan biaya pokok produksi (BPP) listrik agar rakyat juga bisa menikmati listrik murah.

“Ide Pak Dahlan, ide yang baik. Tapi kalau kita cermati PLN ini bukan perusahaan yang beruntung-untung amat. Sejak dulu selalu rugi dan masih punya banyak utang. Jadi jangan bicara gratis dulu, selesaikan dulu masalah itu,” tegasnya.(nuh/vibiz)

Kategori:NASIONAL
  1. 15 Juni 2010 pukul 06:48

    hm…kaya gali lobang tutup lobang ya masalahnya…

    gk kan pernah selesai…

    makasih banyak mas infonya…

    salam kenal…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: